KOMENTAR DI BAGIAN BAWAH SEKALI

KEPRIBADIAN MENURUT PERSPEKTIF PSIKOLOGI



A.    Definisi Kepribadian
Kata kepribadian berasal dari kata Personality yang berasal dari kata persona yang berarti kodok atau topeng. Yaitu tatap muka yang sering digunakan oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak atau pribadi seseorang.
Pada dasarnya istilah kepribadian digunakan untuk pengertian yang ditujukan pada induvidu atau perorangan. Artinya, yang mempunyai kepribadian adalah induvidu. Kemudian masyarakat, sehingga selain dikenal adanya kepribadian si Fulan, juga dikenal dengan adanya kepribadian Minangkabau, kepribadian Jawa, kepribadian pegawai negeri, kepribadian Indonesia, dan sebagainya. Hal ini sama dengan penggunaan istilah Jiwa, yang tadinya melekat pada induvidu, tapi akhirnya meluas penggunaanya, sehingga bukan perorangan yang mempunyai jiwa, tapi masyarakatpun mempunyai jiwa, seperti jiwa kelompok, jiwa petani, jiwa santri bangsa Indonesia, dan sebagainya.
Gordon W. Allport (1937) memberikan definisi kepribadian sebagai berikut:
Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysial system that determine his unique adjustment to his environment.
Beberapa definisi dari kepribadian:
a.    Bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamis, artinya suatu organisasi terdiri dari sejumlah aspek/unsur yang terus tumbuh dan berkembang sepanjang hidup manusia.
b.    Aspek-aspek tersebut adalah mengenai psiko-fisik (rohani dan jasmani) antara lain sifat-sifat, kebiasaan, sikap, tingkah laku, bentuk-bentuk tubuh, ukuran, warna kulit, dan sebagainya. Semuanya tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi yang dimiliki seseorang.
c.    Semua aspek kepribadian, baik sifat-sifat maupun kebiasaan,sikap, tingkah laku, bentuk tubuh dan sebagainya, merupakan semua sistem (totalitas) dalam menentukan cara yang khas dalam mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungan.
Dari uraian tentang pengertian kepribadian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kepribadian, yaitu keseluruhan pola (bentuk) tingkah laku, sifat-sifat, kebiasaan, kecakapan bentuk tubuh serta unsur-unsur psiko-fisik lainnya yang selalu menampakkan diri dalam kehidupan seseorang.
Dengan kata lain dapat dikatakan kepribadian yang mencakup semua akutulasi dari (penampilan) yang selalu tampak pada diri seseorang, merupakan bagian yang khas atau ciri dari seseorang. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, namun dalam beberapa hal mungkin memiliki persamaan.
Kepribadian seseorang adakalanya menarik hati orang lain tetapi adakalanya tercela. Kepribadian yang menarik adalah yang memiliki unsur-unsur positif sepertti rajin, penyabar, pemurah, peramah, suka menolong, pembersih, dan sebagainya. Sedang kepribadian yang tercela misalnya pemalas, pemarah, kikir, sombong, angkuh, penjorok, dan sebagainya.



B.    Sifat dan Sikap
a.    Pengertian Sifat (Trait)
Sifat adalah tendens determinasi atau predisposisi dan diberinya definisi demikian:
Sifat adalah sistem neurophysis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, dan memulai serta membimbing tingkah laku adaptif ekspressi secara sama.
b.    Pengertian Sikap (attitudes)
Perbedaan antara sifat dengan sikap sukar diberikan. Bagi Allport kedua-duanya itu adalah predisposisi untuk berespon, kedua-duanya khas, kedua-duanya memulai dan membimbing tingkah laku dan mendorong. Keduanya adalah hasil dari factor genetis dan belajar. Namun ada juga perbedaan diantara keduanya:
1.    Sikap (attiude) itu berhubungan dengan sesuatu obyek atau sekelompok obyek, sedangkan sifat tidak.
Jadi sifat umum daripada trait hampir selalu lebih besar/luas daripada sikap, dan kenyataanya makin besar jumlah obyek yang dikenai sikap itu, maka sikap makin mirip kepada sifat sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus kelebihan umum, tetapi kalau sifat selalu umum.
2.    Sikap biasanya memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi, sedangkan sifat tidak.
C.    Temperamen dan Watak
a.    Pengertian Tempramen
Temperamen adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan emosi (perasaan), misalnya pemarah, penyabar, periang, pemurung, introvert, ekstrovert, dan sebagainya. Sifat-sifat emosional adalah bawaan (warisan/turunan), sehingga bersifat permanen dan tipis kemungkinan untuk dapat berubah.
Sedangkan menurut Allport temperament adalah bagian khusus dari kepribadian yang diberikannya definisi demikian:
Temperament adalah gejala karakteristik daripada sifat emosi induvidu, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kwalitet kekuatan suasana hatinya, dan segala cara daripada fluktuasi dan intensitet suasana hati, gejala ini tergantung kepada factor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan.
Temperament selalu menunjukkan hubungan atau perpaduan yang erat antara rohaniah dengan jasmaniah. Seseorang yang memiliki temperament yang tinggi adalah seseorang yang mudah emosi (naik darah/marah) diiringi dengan gerakan-gerakan tangan, kaki, mata, mulut, serta raut muka marah, pucat dan sebagainya. Sedangkan orang yang penyabar dengan wajah tenang serta bericara lambat serta irama yang mantap.
b.    Pengertian Watak
Watak (karakter atau tabiat) adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan nilai-nilai, misalnya jujur, pembohong, rajin, pemalas, pembersih, penjorok, dan sebagainya. Sifat-sifat itu buka bawaan lahir, tetapi diperoloeh setelah lahir, yaitu hasil dari kebiasaan sejak dari kecil, atau sebagai hasil dari pengaruh pendidikan/lingkungan sejak kecil. Sifat-sifat ini tebentuk terutama pada masa-masa anak-anak sampai umur 5 tahun (balita), dan berkembang terus sampai masa sekolah dan remaja.
Berbeda halnya dengan temperament, yang sangat sukar dipengaruhi  atau diubah, maka wataknya besar kemumngkinan sukar untuk diubah. Sifat jujur, pembohong, rajin, pemalas, percaya pada diri sendiri (optimis), pesisimis, dan sebagainya, semua itu adalah hasil tempaan orang tau dan pengaruh sejak kecil. Kepribadian adalah keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri seseorang, termasuk di dalam temperamen dan watak. Di samping itu, termasuk juga ke dalam kepribadian semua pola tingkah laku, kebiasaan, sikap, kecakapan, serta semua hal yang selalu muncul dari seseorang. Dengan demikian, kepribadian mengandung arti yang lebih luas dari temperament dan watak, karena temperament dan watak adalah sebagian dari kepribadian.
Walaupun istilah watak dan kepribadian sering digunakan secara bertukar-tukar, namun Allport menunjukkan, bahwa biasanya kata watak menunjukkan arti normative, serta menyatakan bahwa watak adalah pengertian ethis dan menyatakan, bahwa Character is personality evaluated, and personality is chararcther devaluated (watak adalah kepribadian dinilai, dan kepribadian adalah watak tak dinilai).
D.    Teori-Teori Kepribadian
a. Teori Kepribadian Ludwig Klages
klages dapat digolongkan pada ahli-ahli yang memamakai cara pendekatan pensifatan dan menentang cara pendekatan tipologis. Menurut Klages dengan cara pendekatan tipologisorang tidak dapat mendekatai kepribadian secara layak. Seorang ahli kepribadian harusnya tidak puas dengan sifat-sifat garis besar itu, karena tidak ada dua orang yang benar sama kepribadiannya. Masing-masing orang haruslah didekati dan dihadapi menurut apa adanya. Karena dasar pikiran yang demikian itulah maka Klages ingin menyusun teori kepribadian yang dapat digunakan untuk mendekati sifat-sifat kepribadian manusia sampai garis kecilnya. 

    Klages mengemukakan, bahwa ada 3 aspek kepribadian itu, yaitu:
1. Materi atau bahan (stoff)
2. Struktur (Struktur)
3. Kualitas atau sifat (Artung)
b. Teori Kepribadian Kurt Lewin
    Teori Kurt Lewin ini dapat dimengerti lewat rangka struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian.
1. Struktur Kepribadiaan
    Kenyataannya psikologi yang selalu dipegang Lewin ialah bahwa pribadi itu selalu ada dalam lingkungannya; pribadi tak dapat dipikirkan lepas dari pikirannya.
2. Dinamika Kepribadian
    Didalam membahas dinamika kepribadian, Lewin mengungkan konsepsi-konsepsi yang istilah-istilahnya diambil dari ilmu pengetahuan alam. Pengertian-pengertian pokok yang digunakan oleh Lewin disini ialah: energy, tension, need, valence atau vector.
3. Perkembangaan Kepribadian
    Qalaupun Lewin tidak menentang pendapat bahwa keturunan atau kematangan penting peranannya dalam perkembangan individu, namun sama sekali dia tidak membahas soal tersebut, karena pada pendapatnya soal tersebut tidak masuk bidang psikologi, tetapi termasuk bidang biologi. Hakikat perkembangan itu menurut Lewin adalah perubahan-perubahan tingkah laku (behavioral changes).

E. Proses Perkembangan Kepribadian
Proses individuasi ini ditandai oleh bermacam-macam perjuangan batin melalui bermacam-macam tahap perkembangan
a. Tahap Pertama Membuat sadar fungsi pokok serta sikap jiwa yang ada dalam ketidaksadaran. Dengan cara ini, tegangan dalam batin berkurang dan kemampuan untuk mengadakan orientasi serta penyesuaian diri meningkat
b. Tahap Kedua
Membuat sadar imago. Dengan menyadari imago ini, orang akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya sendiri yang diproyeksikan.
c. Tahap Ketiga
Menyadari bahwa manusia hidup dalam berbagai tegangan pasangan yang berlawanan, baik rohaniah maupun jasmaniah. Manusia harus tabah menghadapi masalah ini serta dapat mengatasinya.
d. Tahap Keempat
Adanya hubungan yang selaras antara kesadaran dan ketidaksadaran, adanya hubungan yang selaras antar segala aspek dari kepribadian yang ditimbulkan oleh titik pusat kepribadian yaitu Diri. Diri menjadi titik pusat kepribadian, menerangi, menghubungkan, serta mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Gambaran manusia yang mampu mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadiannya ini disebut manusia integral atau manusia sempurna'.
F.    Tipe-Tipe Kepribadian
Pada uraian terdahulu telah dijelaskan setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda. Meskipun terdapat perbedaan, dari beberapa aspek tertentu terdapat persamaan bagi sejumlah orang. Berdasarkan persamaan aspek kepribadian pada sejumlah orang tertentu, maka para ahli mengadakan pembagian/penggolongan kepribadian manusia bermacam-macam tipe.


a.    Menurut Galenus
Galenus seorang dokter bangsa romawi (129-199 M) membagi temperament manusia menjadi 4 tipe berdasarkan jenis cairan yang paling berpengaruh pada tubuh manusia. Pembagian tersebut adalah:
1.    Cholericus: empedu kuning (chole) yang paling berpengaruh. Orang ini besar dan kuat tubuhnya, mudah naik darah, sukar mengendalikan diri.
2.    Sanguinicus: darah (sanguis) yang lebih besar pengaruhnya. Orang ini wajahnya selalu berseri-seri, periang, dan berjiwa kekanak-kanakan.
3.    Fagmaticus: lendis (flegma) yang paling berpengaruh. Orang ini pembawaanya tenang, pemalas, pesisimis, dan wajahnya selalu pucat.
4.    Melancholicus: empedu hitam (melanchole) yang lebih berpengaruh. Orang-orang dengan tipe ini selalu bersikap murung, dan mudah menaruh syak (curiga).
b.    Menurut Heymans
Gerart Heymans, seorang profesor bangsa Belanda (1857-1930) membagi temperament manusia berdasarkan pada tiga unsur/sifat penting yang dimiliki manusia yaitu:
Emosionalitas        : kepekaan perasaan
Akivitas        : kemampuan bertindak
Fungsi sekunder    : kemampuan memproduksi tanggapan-tanggapan.
Heymans membagi tipe watak manusia berdasarkan kuat lemahnya ketiga unsur tersebut dalam diri setiap orang. Dengan membuat grafik, ketiga unsur tersebut dala, bentuk kubus, Heymans memperoleh 7 macam tipe manusia, yaitu:

1.    Gapasioneerden (orang hebat)
2.    Cholerici (orang garang)
3.    Sentimental (orang perayu)
4.    Nerveuzen (orang penggugup)
5.    Flegmaciti (orang tenang)
6.    Sanguinici (orang kekanak-kanakan)
7.    Amorfen (orang tak berbentuk)
c.    Menurut Spranger
Eduard Spranger, ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, membagi watak manusia atas dasar nilai-nilai yang dianut oleh seseorang. Nilai-nilai itu ialah nilai ekonomi, politik, sosial, ilmu pengetahuan, kesenian, dan agama.
Berdasarkan kuat lemahnya nilai-nilai itu dalam seseorang. E. Spranger membagi watak/kepribadian manusia menjadi 6 tipe yaitu:
1.    Manusia Teori
Orang-orang ini berpendapat ilmu pengetahuan paling penting, berada diatas segala-galanya. Pengetahuanlah yang paling berkuasa, knowledge is power.
2.    Manusia Ekonomi
Nilai yang paling penting bagi orang ini ialah uang (ekonomi). Semboyannya ialah time is money. Segala usahanya ditujukan pada penguasaan materi/uang sebanyak-banyaknya.
3.    Manusia Sosial
Bagi orang ini, nilai-nilai sosial paling mempengaruhi jiwanya. Mereka memiliki sifat seperti senang bergaul, suka membantu orang lain yang mengalami kesulitan, suka bekerja sama dalam menyelesaikan suatu persoalan, mau berkorban demi kepentingan orang banyak.

4.    Manusia Politik
Nilai yang terpenting bagi orang ini ialah politik. Sifat orang ini suka membicarakan soal politik dan ketatanegaraan, mengikuti pergolakan di dalam dan di luar negeri, mengagumi tokoh-tokoh negarawan. Dalam segala kepentingannya di masyarakat, ia selalu ingin menonjolkam diri dan ingin mengusai orang lain.
5.    Manusia Seni
Jiwa orang ini selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai kesenian. Sebagian besar waktunya dipergunakan untuk mengabdi kepada kesenian.
6.    Manusia Saleh
Orang ini pecinta nilai-nilai agama. Bagi mereka yang lebih penting dalam  hidup ini ialah mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
d.    Menurut Islam
Dalam Al Qur’an tipe kepribadian manusia itu dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu: mukmin (orang yang beriman), kafir (menolak kebenaran), dan munafik (meragukan kebenaran) .
a.    Tipe Mukmin
Tipe kepribadian mukmin mempunyai karakteristik sebagai berikut.
1)    Berkenaan dengan aqidah: beriman kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir, dan qodar.
2)    Berkenaan dengan ibadah: melaksanakan rukun islam.
3)    Berkenaan dengan kehidupan sosial: bergaul dengan orang lain secara baik, suka bekerja sama,   menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, suka memaafkan kesalahan orang lain, dan dermawan.
4)    Berkenaan dengan kehidupan keluarga: berbuat baik kepada kedua orang tua dan saudara, bergaul yang baik antara suamiistri dan anak, memelihara dan membiayai keluarga.
5)    Berkenaan dengan moral: sabar, jujur, adil, qona’ah, amanah, tawadlu, istiqomah, dan mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu.
6)    Berkenaan dengan emosi: cinta kepada Allah, takut akan azab Allah, tidak putus asa dalam mencari rahmah Allah, senang berbuat kebajikan kepada sesama, menahan marah, tidak angkuh, tidak hasud, atau iri, dan berani dalam membela kebenaran.
7)    Berkenaan dengan intelektual: memikirkan alam semesta dan ciptaan Allah yang lainnya, selalu menuntut ilmu, menggunakan pikirannya untuk suatu yang bermakna.
8)    Berkenaan dengan pekerjaan: tulus dalam bakerja dun menyompurnnkan pekorjaan. Berlomba dengan giat. dalam upaya momporoloh rizki yang halal.
9)    Borkonaan dengan fisik sehat, kuat. dan suci/beraih.
b.    Tipe kafir
        Tipe  kepribadinn kafir mempunyai karakteristik sebagai berikut.
1)    Berkenaan dengan Akidah: tidak beriman kopada Allah, dun rukun iman yang lainnya.
2)    Berkenaan dengan ibadah: menolak boribadah kepada Allah.
3)    Berkenaan dengan kehidupan sosial: zhalim, memusuhi orang yang beriman, senang mengajak pada kemungkaran, dan melarang kebajikan.
4)    Berkenaan dengan kekeluargaan: senang memutus silaturahim.
5)    Berkenaan dengan moral: tidak amanah, berlaku sarong, suka menuruti hawa nafsu (impulsif), sombong, dan takabur.
6)    Berkenaan dengan emosi: tidak cinta kepada Allah, tidak takut azab Allah, membenci orang mukmin.
7)    Berkenaan dengan intelektual: tidak menggunakan pikirannya untuk bersyukur kepada Allah.
c.    Tipe Munafik
 Tipe kepribadian munafik mempunyai karakteristik sebagai berikut.
1)    Berkenaan dengan akidah: bersifat ragu dalam beriman.
2)    Berkenaan dengan ibadah: bersifat riya, dan bersifat malas.
3)    Berhubungan dengan hubungan sosial: menyutuh kemungkaran dan mancegah kebajikan, suka menyebar isu sebagai bahan adu domba di kalangan kaum muslimin.
4)    Berkenaan dengan moral: senang berbohong, tidak amanah (khianat): lngkar janji, kikir, hedonis dan oportunis, penakut; (dalam kebenaran), bersifat pamrih.
5)    Berkenaan dengan emosi: suka curiga terhadap orang Iain, takut mati.
6)    Berkenaan dengan intelektilal: peragu dan kurang mampu mengambil keputusan (dalam kebenaran), dan tidak berpikir secara benar.
G. Kepribadian Normal dan Abnormal
Apa arti perilaku “abnormal”? kriteria apa yang digunakan untuk membedakannya dari perilaku “normal”? Dr. Thomas Szasz, seorang psikiater, pernah menyatakan, “jika seseorang berkata bahwa ia sedang berbicara kepada Tuhan, temannya akan maklum bahwa orang itu sedang berdo;a. namun, kalua ia berkata bahwa Tuhan sedang berbicara kepadanya, boleh dipastikan bahwa temannya itu akan mrnyebutnya gila” (Supratiknya, 1995)
Contoh pernyataan diatas sebetulnya dapat dipandang sebagai cerminan betapa batas anatara keadaan normal dan abnormal tipis sekali atau sangat sukar ditarik. Itu pula yang menyebabbkan para ahli agak sulit merumuskan secara tepa tapa yang dimaksud dengan normal dan abnormal tentang perilaku atau kepribadian. Dari sudut pandang ilmiah pun seperti dikatakan Gladstone (1994:28), “Tidak ada perilaku yang disebut sebagai tingkah laku normal. Kenormalan demikian terpaut dengan nilai-nilai budaya sehingga tidak mungkin dibuat suatu definisi lintas budaya yang objektif (universal atau komparatif yang memotong perbedaan-perbedaan antar budaya).”
Orang yang tingkah lakunya sangat berbeda dari norma yang berlaku dalam suatu masyarakat disebut “abnormal”. Karena norma-norma tersebut berbeda antara masyarakat satu yang ada dimasyarakat lainnya, suatu perbuatan yang dianggap normaldisuatu masyarakat, mungkin dianggap abnormal dimasyarakat lain.
Beberapa ciri orang yang normal sebagai berikut:
Menurut Maslow dan Mittelmann Maslow dan Mittelmann menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a. Memiliki rasa aman yang tepat (sense of security)
b. Memiliki penilaian diri (selfevaluation) dan wawasan (insight) yang  rasional.
c. Memiliki spontanitas dan emosional yang tepat.
d. Memiliki kontak dengan realitas secara efisien.
e. Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat.
f. Memiliki pengetahuan mengenai dirinya secara objektif.
g. Memiliki tujuan hidup yang adekuat, tujuan hidup yang realistis, yang didukung oleh potensi.
h. Mampu belajar dari pengalaman hidupnya.   
i. Sanggup untuk memenuhi tuntutantuntutan kelompoknya.
j. Ada sikap emansipasi yang sehat pada kelompoknya.
k. Kepribadiannya terintegrasi
2. Kriteria Abnormal adalah ;
a. Abnormalitas menurut Konsepsi Statistik Secara statistik suaru gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Dengan demikian seorang yang jenius samasama abnormalnya dengan seorang idiot, seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidakjujur.
b. Abnormal menurut Konsepsi Patologis Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom (tanda-tanda) klinis tertentu, misalnya ilusi, halusinasi, obsesi, fobia, dst. Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal.

c. Abnormal menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi
Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam   menghadapi masalah dirinya menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal.
g.     Abnormalitas menurut Konsepsi Kematangan Pribadi
Menurut konsepsi kematangan pribadi, seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya, yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya.
h. Disability (tidak stabil)
a) Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.
b) Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.

Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan defmisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.







BAGIKAN SEGERA WhatsApp

Post a Comment