PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan salah
satu mata pelajaran yang wajib diajarkan dalam setiap jenjang pendidikan di Indonesia,
baik pada jenjang pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi. Salah satu
alasannya, kemampuan berbahasa (Indonesia) merupakan kemampuan dasar yang harus
dimiliki oleh setiap peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Bahasa memiliki peran sentral dalam
perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan
penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran
bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya
orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat
yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan
analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Bahasa Indonesia juga
diharapkan mampu menjadi penghela bagi mata pelajaran lainnya.
Pembelajaran bahasa Indonesia
diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam
bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis,
sertamenumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Bredekamp juga menyatakan bahwa anak berkembang pada semua aspek
perkembangannya baik fisik, emosional, sosial, dan kognitif. Tidak ada jalan
lain kecuali guru harus memiliki tanggungjawab dan perhatian penuh bagi keutuhan
perkembangan anak.
Salah satu hal yang sangat urgen
kaitannya dengan mata pelajaran bahasa Indonesia adalah bagimana caranya agar
pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dapat berhasil dengan baik? Jawaban
untuk pertanyaan seperti itu tentu banyak sekali variasinya, mengingat banyak
faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa Indonesia.
Salah satunya adalah perlu adanya pemahaman mengenai karakteristik pembelajaran
bahasa Indonesia oleh praktisi pendidikan.
Khusus guru pengampu mata pelajaran
bahasa Indonesia. Oleh karena itu dalam aiakaian ¿m akan dibahas iebih lanjut
mengenai karakter bahasa indonesia di SD/MI yang harus kita ketahui sebagai
pendidik di SD/MI.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
karakteristik dan perkembangan anak usia SD/MI?
2. Apa tujuan dan
ruang lingkup pembelajaran bahasa Indonesia di SD/MI?
3. Bagaimana
perkembangan belajar anak usia SD/MI?
4. Bagaimanakah
impikasi teori pemerolehan bahasa?
5. Bagaimanakah
kendala siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia?
BABII
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Karakteristik
dan Perkembangan Anak Usia SD/MI
Anak SD berada pada usia 6-12 tahun.
Usia ini berada pada periode operasional. Dalam hal ini anak dapat berpikir
logis mengenai benda-benda konkret. Adapun, dalam perkembangan bahasanya berada
pada fase semantik yaitu anak dapat membedakan kata sebagaisimbol dan konsep
yang terkandung dalam kata. Berdasarkan hal tersebut, karakteristik anak SD
pada masa awal antara lain:1
1) adanya korelasi
positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan
prestasisekolah,
2) adanya sikap
yang cenderung untuk mematu hiperat u ran-r-oraturan permainan yang
tradisional,
3) adanya
kecenderungan memuji sendiri,
4) suka
membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, kalau hal itu dirasanya
menguntungkan untuk meremehkan anak lain,
5) kalau tidak
menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting,
6) pada masa ini
terutama pada umur 6-8 tahun anak menghendaki nilai yang baik tanpa mengingat
apakah prestasinya memang pantas diberimiai baik atau tidak.
Adapun karakteristik anak SD pada
kelas lanjut adalah:-
a) adanya minat
terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret. Hal inimenimbulkan adanya
kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan- pekeijaan yang praktis,
b) amat realistik,
ingin tahu, dan ingin belajar,
c) menjelang akhir
masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh
ahli-ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai mulainya menonjol
faktor-faktor,
d) sampaikira-kira
umur 11 tahun, anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya untuk
menyelesaikan tugasnya dan memenuhi keinginannya;
e) setelah
melewatiumur 11 pada umumnya anak menghadapitugas-tugasnya dengan bebas dan
berusaha menyelesaikan sendiri,
f) pada masa ini
anak memandang nilai/angka rapor sebagai ukuran yang tepat (sebaik-baiknya)
mengenai prestasi sekoiah,
g) anak-anak pada
masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama.
Didalam permainan ini biasanya anak-anak tidak lagi terikat kepada aturan
permainan tradisional, mereka membuat peraturan sendiri.
Karakteristik yang dimiliki anak SD
tersebut dipengaruhi oleh faktor intelektual, faktor kognitif, faktor verbal, dan
faktor emosional. Keberhasilan anak untuk memperoleh bahasa pertamanya
merupakan hal yang betul-betul luar biasa. Sang anak daiarn waktu relatif
singkat dapat menguasai sistem yang begitu rumit.
Menurut para ahli, anak ini
memerlukan waktu kurang lebih 25 tahun untuk mencapai penguasaan bahasa orang
dewasa, setelah itu dia seiaiu menyempurnakannya dengan menambah kosa kata,
mempertajam pemahaman tata bahasa, dan lainnya yang menyangkut seluk-beluk
bahasa. Anak SD berada pada usia 6-12 tahun. Pada usia iniberada pada periode
operasional. Dalam hal inianak dapat berpikir logis mengenaibenda-benda
konkret. Adapun, dalam perkembangan bahasanya berada pada fase semantik yaitu
anak dapat membedakan kata sebagaisimboi dan konsep yang terkandung dalam kata.
Bahasa memungkinkan manusia untuk
saling berkomunikasi, saling berbagi
pengalaman, saling belajar dari yang lain,
dan untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan kesusasteraan
merupakan salah satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut. Standar kompetensi
mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu program yang bertujuan untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa peserta didik, serta sikap
positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tuiuan mata pelajaran bahasa
Indonesia di SD' MI yaitu:
1) Berkomunikasi
secara efekut dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan
maupun tulis,
2) Menghargai dan
bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara,
3) Memahami bahasa
Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan,
4) Menggunakan
bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan
emosional dan sosial,
5) Menikmati dan
memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti,
serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa,
6) Menghargai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Sedangkan tujuan pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD/MI untuk aspek menulis adalah agar peserta didik memiliki
kemampuan untuk melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan
pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk,
surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan,
parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan
pantun.
Dengan standar kompetensi mata
pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
1) Peserta didik
dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan
minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaafi terhadap hasil karya kesastraan
dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2) Guru dapat
memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan
menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3) Guru lebih
mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan aiar kebahasaan dan kesastraan
sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta
didiknya;
4) Orang tua dan
masyarakat damai dalam pelaksanaan program kebahasaan : Kesastraan di sekolah;
5) Sekolah dapat
menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan
keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6) Daerah dapat
menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan
kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
Adapun ruang lingkup mata pelajaran
Bahasa Indonesia di SD/ MI dapat
dikategorisasi sebagai berikut :4
a. Aspek
mendengarkanjpencakup dua sub aspek yaitu: mendengarkan aktif dan aktif
produklfT
Adapun contoh dah masing-masing sub
aspek itu sebagai berikut:
- Mendengarkan Aktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; Membedakan berbagai bunyi bahasa perintah, dan dongeng yang dilisankan,
- Mendengarkan Aktif Produktif dapat dicontohkan pada
- kompetensi dasar seperi i; Menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita, Mengulang deskripsi tentang benda-benda di tentang deskripsi benda-benda di sekitar dan dongeng, Menyebutkan isi dongeng, Mendeskripsikan isi puisi.
b.
Aspek/Derbicara\nencakup dua sub aspek yaitu mendengarkan aktif dan aktif
- Berbicara Aktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; Mendeskipsikan benda-benda di sekitar dan fungsi . anggota tubuh dengan kalimat sederhana, Mendeklamasikan puisi anak dengan lafal dan intonasi yang sesuai
- Berbicara Aktif Produktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; Bertanya kepada orang lain dengan pikiran, perasaan, dan menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun, Menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri.
c.
Aspek/membacaraencakup dua sub aspek yaitu mendengarkan aktif dan aktif
produktif"
- Membaca Aktit dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan wacana tulis dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat, membaca nyaring dan membaca dalam hati.
- Membaca Aktif Produktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; Menyebutkan isi teks agak panjang (20-25 kalimat) yang dibaca dalam hati, Menjawab dan atau mengajukan pertanyaan,
d. Aspek
Menu mencakup dua sub aspek yaitu Sastra dan Non sastra.
- Sub aspek Sastra dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; Menulis karangan sederhana. Menulis berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
- Sub aspek Non sastra dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; Menulis petunjuk, surat, pengumuman, formulir, teks pidato, laporan dan ringkasan.
Bruner, seperti halnya Piaget yakin
bahwa ajiak-anak mengalami perkembangan kognitif menurut fase-fase tertentu
Brunner mengidentifikasi tiga fase perkembangan. Yang pertama disebut periode
enaktif,\ dari lahir sampai umur satu tahun, yaitu periode melakukan tindakan
dan pekerjaan. Fase yang kedua adalah periode ekonik, saat berkembangnya
khayalan, yang pada utnumnya terjadi pada satu sampai empat tahun. Yang
terakhir, fase ketiga disebut periode simbolik. Pada periode ini, yang dimulai
umur empat tahun dan berlangsung sepanjang kehidupan, anak belajar menggunakan
sistem simbol, khususnya bahasa.
Piaget nenawarkan empat fase
perkembangan kognitif yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional konkret,
dan operasional-fermal. Kebanyakan pembelajaran bahasa terjadi pada akhir fase
sensorimotor dan selama fase praoperasional. Pada periode ini anak memperoleh
bahasa dengan sangat cepat. Berdasarkan sejumlah penelitian, Bewail, dan Straw
menyimpulkan bahwa ada kescniangan antar fase nerk emban ean menurut
Piaget tersebut dengan fase- tase perkemoangan bahasa.
Berdasarkan hal-hal diatas
akan dipaparkan beberapa perkembangan bahasa pada usia SD antara lain:3
1. Perkembangan
Pragmatik
Perkembangan pragmatik atau
penggunaan bahasa merupakan hal yang paling penting dalam bidang perkembangan
bahasa pada periode usia sekolah Pada usia prasekolah anak belum memiliki
keterampilan bercerita secara sistematis. Selama periode usia sekolah, proses
kognitif meningkat sehingga memungkinkan anak menjadi komunikator yang lebih
efektif. Secara umum, anak kurang dapat menerima pandangan erang lain. Apabila
anak telah . memperoleh struktur bahasa yang lebih banyak dia dapat lebih
berkonsentrasipada pendengar. Anak-anak mulaimengenal adanya berbagaipandangan
mengenaisuatu topik. Mereka dapat mendeskripsikan sesuatu tetapideskripsiyang
mereka buat lebih bersifat personal dan tidak mempertimbangkan makna
informasiyang disampaikannya bagipendengar. Informasitersebut biasanya tidak selalu
benar karena tercampur dengan hal-hal yang ada dalam khayalannya.
2. Kemampuan
bercerita
Anak-anak berumur lima dan
enam tahun menghasilkan berbagaimacam cerita. Cerita-cerita anekdot yang paling
banyak mereka hasilkan. Isinya tentang hal-hal yang terjadi dirumah mereka
masing-masing dan dimasyarakat sekitarnya. Cerita-cerita tersebut mencerminkan
kelompok sosial budaya dan suasana yang berbeda-beda. Kemampuan membuat cerita
tersebut seharusnya sudah diperkenalkan pada usia prasekolah meskipun masih
sangat sederhana, yakniselama kegiatan mengasuh anak, bermain, dan membacakan
cerita kepada anak-anak. Pada waktu berada dikelas dua, anak-anak mulaidilatih
menggunakan kalimat yang agak panjang dengan konjungsi: dan. lalu dan kata
depan: di, ke, dari.
3. Perkembangan
kemampuan membuat cerita
Anak-anak berumur enam tahun sudah
dapat .nercerita sederhana ¿utang acara televisi atau film yang mereka lihat.
Kemampuan ini selanjutnya berkembang secara teratur, sedikit demi sedikit.
Mereka belajar menghubungkan kejadian tetapi bukan yang mengandung hubungan
sebab akibat. Konjungsi yang sering digunakan ialah dan, dan lalu.
Pada usia tujuh tahun anak-anak
mulai dapat membuat cerita yang agak padu. Mereka sudah mulaidengan
mengemukakan masalah, rencana untuk mengatasimasalah, dan penyelesaian masalah
tersebut meskipun belum jelas siapa yang melakukannya.
Pada umur delapan tahun anak-anak
menggunakan penanda awal dan akhir cerita, misalnya, ’’Akhirnya mereka hidup
rukun”. Kemampuan membuat alur cerita yang agak jelas baru mulai diperoleh oleh
anak-anak pada usia lebih dan delapan tahun. Pada umur tesebut barulah mereka
dapat mengemukakan pelaku yang mengatasimasalah dalam cerita. Anak-anak
mulaidapat menarik perhatian pendengar atau pembaca cerita yang mereka buat.
Struktur cerita mereka menjadi semakin jelas.
4. Perbedaan
bahasa anak laki-laki dan perempuan
Pada waktu duduk dikelas-kelas
rendah sekolah dasar, bahasa anak laki- lakidan perempuan mulaimencerminkan
perbedaan. Perbedaan inidapat dilihat pada kosakata yang digunakan dan gaya
bercerita,
- Penggunaan kosakata
Perbedaan kosakata yang digunakan oleh anak laki-lakidan perempuan pada umumnya ada pada pilihan katanya. Pada umumnya aftak perempuan menghindari bahasa yang berisiumpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan, misalnya, silakan, terima kasih, selamat jalan, dan sebagainya. sedangkan laki-lakicenderung menggunakan umpatan, - Gaya bercerita
Wanita cenderung menggunakan cara-cara tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan sedangkan anak laki-laki cenderung memberitahu.
5. Perkembangan
Semantik dan Proses Kognitif
Pada usia sekolah dan sampai dewasa,
setiap individu meningkatkan jumlah kosakata dan makna khas istilah. Secara
teratur seseorang mempelajari makna lewat konteks tertentu. Dalam proses
tersebut seseorang menyusun kembaliaspek-aspek kebahasaan yang dikuasainya.
Susunan baru yang dihasilkannya itu tercermin dalam cara seseorang menggunakan
kata-kata. Sebagaidampaknya ialah adanya perkembangan penggunaan bahasa
figuratif atau kreativitas berbahasa yang cukup pesat. Keseluruhan proses
perkembangan semantik yang mulaitahun-tahun awal sekolah dasar inidapat
dihubungkan dengan keseluruhan proses kognitif.
6. Perkembangan Morfologis
dan Sintaktik
Perkembangan bahasa pada periode
usia sekolah dasar mencakup perkembangan secara serentak (simultan)
bentuk-bentuk sintaktik yang telah ada dan pemerolehan bentuk-bentuk baru. Anak
memperluas kalimat dengan menggunakan frase nomina dan frase verba.
Fungsi-fungsi kata gabung dan kata ganti juga diperluas. Tambahan struktur yang
dikuasai termasuk juga bentuk pasif.
Adapun teori belajar bahasa
antara lain:
1) Behaviorisme.
Aliran behaviorisme dalam bahsa
disarikan dari pandangan kaum behavioris tentang concitioning. Setelah teori
ini diadopsi oleh para metodolog bahasa ditemukanlah pendekatan metode
audiolingual. Yaitu dengan pelatihan secara terus menerus kepada siswa yang
diikuti dengan pemantapan, baik positif maupun negatif, sebagai fokus pokok
aktifitas kelas.
2) Kognitivisme
Aliran ini berpendapat bahwa
pembelajaran bahasa tidak pernah mengunakan metodelogi. Akan tetapi gagasannya
yang menyatakan bahwa bahasa bukanlah seperangkat kebiasaan yang penting adalah
bahwa pembelajar menginternalisasikan aturan sehingga akan memungkinkan
terjadinya performasi kreatif telah banyak memberi gagasan bagi berbagai metode
pengajaran. Dengan kata lain siswa ditunjukkan aturan/struktur yang mendasari kemudian
dibiarkan melakukan sendiri, menciptakan sendiri kalimat-kalimat baru adalah
tujuan pengajaran bahasa.
3) Pemerolehan dan
Pembelajaran
Krashen membuat perbedaan antara
pemerolehan bahasa yang dilakukan secara tidak sadar dan yang dilakukan dengan
sadar. Pemerolehan bahasa yang dilakukan secara tidak sadar contohnya seperti
pemerolehan bahasa pertama pada anak kecil (acquistion). Pemerolehan bahasa
yang dilakukan secara sadar contohnya seperti yang dilakukan orang dewaasa
mempelajari bahasa kedua pada latar formal {learning).
4) Tugas pokok
pembelajaran (Task-based Learning)
Berdasarkan hasil uji coba Allwright
seorang linguis Inggris ditemukan bahwa tidak perlu ada pengajaran formal,
seperti pengajaran butir-butir gramatikal. Siswa hanya perlu diminta melakukan
aktifitas komunikatif yang mengharuskan siswa menggunakan bahasa sasaran.
Semakin sering ia melakukan aktifitas tersebut semakin baik dia menggunakan
bahasa yang dipeiajari.
5) Pendekatan
Humanisik
Pandangan ini menganggap bahwa siswa
sebagai suatu kesatuan sehingga pengajaran bahasa tidak hanya mengajarkan
bahasa tetapi juga membantu siswa mengembangkan diri mereka sebagai manusia.
Teori pemerolehan bahasa
berimplikasi terhadap teknik-teknik pengajara bahasa khususnya dalam membuat (l)
teknik pem&ian (drill) untuk penguasaan berbagaiketerampilan dan komponen
bahasa; (2) teknik peniruan (mimicry) untuk mempelajari berbagai model dalam
bahasa: (3) teknik permainan bahasa (language games) untuk mengajarkan berbagai
keterampilan bahasa melalui berbagai permainan yang menarik minat dan
partisipasi pembelajar; (4) teknik bermain peran (role play) untuk mengaktitkan
siswa dalam menggunakan bahasa yang otentik.7
Pembelajaran terpadu merupakan suatu
aplikasi salah satu startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum
terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran
secara relevan dan bermakna bagi anak. Dijelaskan bahwa dalam pembelajaran
terpadu didasarkan pada pendekatan inquiry, yaitu melibatkan peserta didik muiai
dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain storming dari peseita didik.
Dengan pendekatan terpadu peserta didik didorong untuk berani bekeija secara
kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri. Selanjutnya dijelaskan
bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam
mengeksplorasi topik atau kejadian, peserta didik belajar proses dan isi
(materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.
Pembelajaran Bahasa Indonesia
mencakup 4 aspek keterampilan; l) keterampilan menyimak, 2) keterampilan
berbicara, 3) keterampilan membaca, dan 4) keterampilan menulis. Setiap
keterampilan saling mempunyai hubungan yang erat. Sehingga keempat aspek
tersebut sebaiknya mendapat porsi yang seimbang/ Dalam pelaksanaanya sebaiknya dilaksanakan
secara terpadu, misalnya:
- mendengarkan-menulis-berdiskus
- mendengarkan -bercakap-cakap-membaca
- bercakap-cakap-menulis-membacA
- membaca-berdiskusi- memerankan
- menulis -melaporkan-membahas
Pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia di kelas-kelas rendah dalam pelaksanaannya dipadukan atau dikaitkan
dengan mata pelajaran lain seperti IPA, IPS, atau Matematika.
Dari berbagai pendapat para ahli dan
rambu-rambu pembelajaran Bahasa Indonesia, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
Bahasa Indonesia, khususnya di kelas-kelas awal, harus mempertimbangkan asas
keterkaitan atau keterpaduan sebagai pendekatan pembelajaran sesuai dengan
perkembangan anak sekolah dasar yang holistik yaitu pendekatan pembelajaran
terpadu.
Guru sebagai model dalam berbahasa
(membaca dan menulis) seiama proses pembelajaran berlangsung serta bertindak
sebagai fasilitator dan memberikan umpan balik yang positif. Kualitas hasil
pembelajaran Bahasa Indonesia dipengaruhi berbagai faktor. Saiah satu faktor
yang mempengaruhi adalah pendekatan dalam proses pembelajaran yang terjadi di
dalam kelas. Proses tersebut menyangkut materi ajar yang digunakan, kegiatan
guru dan peserta didik, interaksi peserta didik dengan peserta didik, peserta
didik dengan guru, dan bahan ajar, alat dan lingkungan belajar serta cara dan
alat evaluasi dan kesesuaian dengan kebutuhan perkembangan peserta didik itu
sendiri.
Disadari bahwa pengembangan program
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia bagianak usia sekolah dasar untuk saat
inimasih dihadapkan pada berbagaikendala. Berbagaikendala yang terinventarisir
oleh penulis di antaranya:'
- Keterbatasan sarana dan prasarana sebagai penunjang terselenggaranyapembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang efektif dilembaga-lembaga pendidikan usia diniyang ada di Indonesia'
- Keterbatasan kemampuan sekolah dalam mengelola berbagaipotensidan sumber yang tersedia.
- Secara khusus terletak pada masih rendahnya motivasidan kreativitas guru dalam menyelenggarakan pembelajaran bahasa.
- Dalam penguasaan keterampilan ada beberapa kendala juga di antaranya: Kesulitan menyimak, kesulitan berbicara, kesulitan membaca dan kesulitan menulis
Hal-hal yang dapat diupayakan
untuk mengatasikesulitan diatas misalnya dengan melakukan menulis terbimbing
diantaranya yaitu:10
- memperkenalkan subjek. Dalam hal ini guru berdiskusi dengan siswa tentang subjek tulisan. Guru bertanya pada siswa: apa nama buah yang paling kau sukai? Di mana mendapatkannya? Bagaimana cara menanamnya?
- memperkenalkan struktur,
- latihan struktur kalimat dalam karangan
- membacakan contoh karangan,
- latihan menulis struktur, misalnya hanya dengan lima atau enam kalimat saja,
- menganalisis karangan, misalnya menelitistiuktur kalimat, sistematika dan lain- lain,
- menulis karangan,
- guru dan siswa memeriksa karangan, boleh berpasangan atau berkelompok,
- proses penguatan tentang hal-hal yang sudah benar dan perbaikan terhadap kesalahan siswa.
Pembelajaran bahasa Indonesia
diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam
bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta
menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia
Indonesia.
Sehubungan dengan itu Goodman dalam
Akhadiah menyatakan bahwa:
- belaiar bahasa lebih sudah terjadi karena bahasa telah disajikan secara holistik nyata, relevan, bermakna, serta fungsional jika bahasa itu disajikan dalam konteks dan dipilih peserta didik untuk digunakan.
- belajar bahasa adalah belajar bagaimana mengungkapkan maksud sesuai dengan konteks lingkungan orang tua, kerabat, dan kebudayaan terdapat interdependensi antara perkembangan kognitif dan perkembangan kemampuan bahasa yang meliputi pikiran bergantung kepada bahasa dan bahasa bergantung kepada pikiran.
Dinyatakan pula bahwa sesuai dengan
teori belajar, perkembangan kognitif serta perkembangan bahasa pada anak usia
lima sampai dengan delapan tahun atau anak kelas awal SD/MI mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
- kemampuan kognitif dan bahasa anak usia tersebut telah memadai untuk belajar daiam situasi yang lebih formal,
- anak-anak seusia itu masih memandang sesuatu lebih sebagai keseluruhan
- sesuatu lebih mudah mereka pahami jika diperoleh melalai interaksi sosial dengan mengalaminya secara nyata dalam situasi yang menyenangkan,
- situasi yang akrab, dilandasi penghargaan, pengertian, dan kasih sayang, serta lingkungan belajar kondusif dan terencana sangat membantu proses belajar yang efektif.
Kenyataan itu menuntut agar guru
sebagai pengelola pembelajaran dapat menyediakan lingkungan belajar yang
kondusif dan pendekatan pembelajaran yang bermuatan keterkaitan atau
keterpaduan sehingga membuat anak secara aktif terlibat dalam proses
pembelajaran dan pembuatan keputusan.
Senada dengan pendapat Goodman.
Suriasumantri (1995:257) menyatakan bahwa belajar bahasa akan lebih mudah jika
pembelajaran bersifat holistik, realistik, relevan, bermakna, dan fungsional,
serta tidak lepas dari konteks pembicaraan. Pendekatan pembelajaran terpadu
dalam pengajaran bahasa sebenarnya dilandasi oleh pandangan bahasa holistic
(wh0le language) yang
memperlakukan bahasa sebagai sesuatu
yang bulat dan utuh, dan dalam proses belajar sesuai dengan perkembangan
peserta didik. Dalam proses pembelajaran bahasa holistic guru menjadi model
dalam berbahasa (membaca dan menulis), serta bertindak sebagai fasilitator dan
memberikan umpan balik yang positif.
Karakteristik perkembangan bahasa
anak usia SD (6 - 10 tahun), meliputi tahapan dimana siswa sudah bisa
menggunakan kalimat panjang, lengkap dan benar. Disampiug itu siswa pada usia
itu sudah mampu menggunkan kata sifat, bahkan sudah memahami kata-kata yang
sebelumnya tidak jelas baginya. Bahasa telah berkembang sejak anak berusia 4-5
bulan. Orang tua yang bijak selalu membimbing anaknya untuk belajar berbicara
mulai dari yang sederhana sampai anak memiliki keterampilan berkomunikasi
dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena itu bahasa berkembang setahap demi
setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak dan kesediaan orang tua
membimbing anaknya.
Fungsi dan tujuan berbicara antara
lain: (a) sebagai pemuas kebutuhan, (b) sebagai alat untuk menarik orang lain,
(c) sebagai alat untuk membina hubungan sosial, (d) sebagai alat untuk
mengevaluasi diri sendiri, (e) untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang
lain, (f) untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Karakteristik bahasa siswa tidak
lepas dari peran orang tua dan guru. Orang tua sebagai pengajar bahasa pertama
seharusnya mulai memperkenalkan anak pada kata-kata sejak dini guna menambah
pengetahuan anak terhadap benda-benda yang ada di sekitar mereka. Anak dapat
lebih mudah belajar bahasa, khususnya kata benda. Seperti pendapat seorang ahli
psikolinguistik, pada anak nomina secara tipikal merujuk pada benda konkret dan
yang dapat dipegang atau yang kasad mata.
BAB V
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan :
Dari uraian diatas maka dapat
disimpulkan bahwa karakteristik perkembangan anak SD dibagi menjadi dua taitu
kelas awal yaitu 1-3 dan kelas lanjut yaitu 4-6. Anank usia SD (6 - 10 tahun),
berada pada periode operasional. Dalam hal ini anak dapat berpikir logis
mengenai benda-benda konkret. Adapun, dalam perkembangan bahasanya berada pada
fase semantik. Karakteristik perkembangan bahasa anak usia SD (6-10 tahun),
meliputi tahapan dimana siswa sudah bisa menggunakan kalimat panjang, lengkap
dan benar. Disamping itu siswa pada usia itu sudah mampu menggunkan kata sifat,
bahkan sudah memahami kata-kata yang sebelumnya tidak jelas baginya.
Karakteristik yang dimiliki anak SD tersebut dipengaruhi oleh faktor
intelektual, faktor kognitif, faktor verbal, dan faktor emosional.
Adapun tujuan pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD/MI pada dasarnya adalah melatih siswa berkomunikasi secara
efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun
tulis. Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD/ Ml dapat
dikategorisasi menjadi 4 yaitu; 1) mendengarkan aktif dan aktif produktif, 2)
berbicara aktif dan aktif produktif, 3) membaca aktif dan aktif produktif, dan
4) menulis aktif dan aktif produktif.
Perkembangan belajar bahasa pada
usia SD/MI mengcangkup 7 hal yaitu; 1) perkembangan pragmatik, 2) kemampuan
bercerita, 3) perkembangan kemampuan membuat cerita, 4) perbedaan bahasa anak
laki-laki dan perempuan, 5) perkembangan semantik dan proses kognitif, 6) perkembangan
morfologis dan sintaktik, dan 7) perkembangan membaca dan menulis.
Ada 5 teori belajar bahasa antara
lain teori behaviorisme, teori kognitivisme, teori pemerolehan dan
pembelajaran, teori tugas pokok pembelajaran (Task-based Learning) dan pendekatan
humanistik. Teori pemerolehan bahasa tersebut berimplikasi terhadap
teknik-teknik pengajaran bahasa. Dan dalam pengembangan program pembelajaran
bahasa dan sastra Indonesia bagi anak usia sekolah dasar untuk saat ini masih
dihadapkan pada berbagaikendala.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, dkk. Pembinaan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. 1994.
Azies, Furqanul. dan Al wasilah, A.
Chaedar. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktek. Cet Ke-2. Bandung:
Remaja Rosdakarya. 2000.
Cahyani, isah. Modul Pembelajaran
Bahasa Indonesia. Jakarta: Kemenag RI. 2012.
http://sdnegeril2siiTipangteritp.blogspot.com/2017/03/karakteristik-mata-pelaiaraH-
bahasa.htmL Rabu, 11 Maret 2017 pukul 12:38.
Irawati, Emi Surya. Karakteristik
Bahasa Indonesia Tuturan Siswa Kelas I SDN Kesatrian / Malang dalam Interalcsi
Belajar Mengajar, dikutip dalam artikel Universitas Negeri Malang.
Tarigan, Henry Guntur. Menulis
sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Edisi Revisi. Bandung: Angkasa. 2008.

Post a Comment
Post a Comment